Kamis, 14 Juli 2011

Pangarit Arsam sian Bakkara (Bag I Bakkara Sibolga - 1)


"Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tokoh atapun jalan cerita hanya karena kebetulan belaka"

"Oiii...Arsam, lama sekali kau! Ayo cepat,  kita harus tiba di Sipoholon sebelum matahari terbenam, dan jangan lupa bawa bambu tempat tuak itu" teriak seorang laki-laki separuh baya  bertelanjang dada dari atas seekor kuda. "Togar, coba temui Arsam, jangan sampai tuak itu tertinggal olehnya. Itu hadiah terbaikku buat Tuan Raso Padan" pinta laki-laki itu kembali kepada Patogar. Dengan cekatan remaja tanggung itu melompat dari kuda dan berlari menaiki tangga rumah Sopo itu. Sambil berlari dia berteriak "Arsam jangan sampai lupa engkau membawa bumbung tuak itu". Samar-samar terdengar balasan dari dalam rumah "Abang togar, tolong bantu aku, terlalu banyak bawaan ini, tidak cukup badanku yang kecil ini membawa semuanya" ujar seorang anak kecil berumur 10 tahun, kepada Patogar. Tubuh anak itu terlalu kecil dibandingkan bawaannya. Seolah-olah badannya hanyut akibat buntelan dan bumbung bambu yang di bopongnya. Penampilannya yang lucu dengan rambut coklat kusam , mata hitam dan jernih serta badannya yang tirus membuat pemandangan saat itu ibarat seekor anjing kampung yang mengendong anak-anaknya dipunggungnya. Tapi hal yang paling mencolok dari anak itu adalah warna kulitnya yang merah terbakar matahari, menunjukkan dia anak cekatan dan lincah serta cerdik dan periang.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA CERITA SELENGKAPNYA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar