Selasa, 01 Oktober 2013

Jalan hidup didalam sebuah kesalahan kecil dalam informasi

Fakta terbaru mengenai kesalahan materi pendidikan mengenai (ons dan pounce) tidak sepenuhnya salah guru, karena mereka juga mendapatkan materi yang salah dari pengajarnya. Yang salah adalah sistem pendidikan yang terlalu fokus terhadap teori tanpa praktek ilmiah, sehingga jarang mengalami benturan dan menjadi pembenaran dalam pelajaran praktek ilmiah. Dan tidak adanya revisi secara mendasar terhadap materi-materi pendidikan yang sudah salah. Banyak kesalahan dan pembelajaran yang saya hadapi dalam dunia kerja, karena saat saya sekolah guru saya kadang kurang terupdate dalam mengajari saya, dan saya juga seorang murid sangat ortodoks yang hanya mengandalkan buku paket sebagai patokan saya belajar, itupun klo saya pingin belajar. Jujur, cita-cita saya saat SMA bukanlah mengusai ilmu saya secara mendalam. Melainkan bagaimana lulus ujian PTN dan menjadi juara kelas setiap semesternya. Munculnya internet di sekolah sangat membantu dalam penyerapan informasi terbaru mengenai ilmu pengetahuan dan informasi teraktual. Saya sangat mendukung program ini tetap berjalan dilingkungan pendidikan.

Salah satu pengalaman yang sangat lucu mengenai kurangnya informasi dikalangan dunia pendidikan, yang mungkin merubah jalan hidup saya dan masa depan saya adalah kosultasi dan bimbingan pemilihan jurusan dan minat saat akan melanjut ke perguruan tinggi dengan guru saat SMA.  Dulu saya tipe murid yang tertarik dengan Fisika, tapi bukan matematika dan kimia. Gelombang suara, resonansi, frekwensi gelombang, kecepatan rambat suara merupakan topik yang sangat menarik minat saya sepenuhnya.

Alkisah saya dapat tawaran dari beberapa PTN ternama untuk jalur PMDK. Kalau tidak salah, saya mengambil tawaran dari PTN Brawijaya Malang, PTN IPB bogor. Dan dari politeknik swasta lokal DEL. Saat itu saya masih anak bawang yang hanya tahu jurusan-jurusan dalam universitas hanya dari cerita saja. Misalnya Tek. Elektro akan berkecimpung dalam elektronika yang bayangan saya itu sekelas radio, televisi, atau komponen komputer. Terbayang aroma solder, PCB, resistor, transistor dan komponen elektronika lainnya. Dan bayangan masa depan, bekerja disebuah perusahaan manufaktur besar dengan mesin robotik dan automation. Untuk jurusan Tek. Mesin saya membayangkan gear-gear supergede dengan mesin-mesin besar, dan bayangan saya saat kuliah akan membongkar mesin mobil atau motor.  Tapi untuk jurusan Pertanian saya membayangkan lebih keren, saat kuliah dan kerja mereka akan selalu turun kelapangan seperti desa persawahan dan perkebunan, memberi penyuluhan dengan metode canggih dan mutakhir membuat para petani melihat anda sebagi dewa penelitian. Kenyataan saat saya kuliah, anak-anak pertanian kadang mencangkol di kebun, berkutat dengan jagung dan ubi jalarnya yang semakin kerdil yang akhirnya dipanen sebagai bahan pangan dikala bokek bersama di kostan.

Saya coba konsultasi mengenai nama-nama jurusan tersebut dengan guru pembimbing di SMU, saya bertanya kepada guru fisika mengenai jurusan Istrumentasi dan Elektronika karena saya tertarik dengan embel-embel elektronika di dalamnya, tapi saya bingung Istrumentasi tu apa? maka saya bertanya dengan guru Fisika saya. "Pak, Jurusan Instrumentasi dan Elektronika itu apa sih?" tanya saya dengan polos. Dan secara cepat dan logika guru saya menjawab "Disana kamu akan belajar mengenai alat-alat musik digital, misalnya keyboard, gitar listrik, seperti apa frekwensi gelombang, dll" jawaban yang mengecewakan, saya membayangkan akan bermain musik dan memperbaiki keyboard saya sendiri nantinya saat kuliah. Tapi karena ini satu-satunya jurusan yang punya kata 'elektronika' di IPB akhirnya saya ambil sebagai pilihan ke-2 sebab pilihan pertama saya adalah "penyuluhan pertanian". Akhirnya komplet sudah karena untuk Brawijaya saya pilih "Tek. Pertanian". Berapa bulan kemudian datang pengumuman saya di terima jalur PMDK di IPB jurusan "Instrumentasi dan Elektronika" dengan bersamaan saya juga diterima di "Tehnik Pertanian" Brawijaya.

Sebenarnya saya lebih suka di IPB, tapi akibat penjelasan yang diberikan guru tentang "alat musik elektronika", saya berfikir ulang dan lebih memilih di Brawijaya. Beruntung keluarga saya ada bekerja di bagian "Instrumentasi dan Elektronika". Ternyata disini "Instrument" bukan berarti alat musik, tetapi semua device atau alat yang digunakan secara digital, bisa alat musik, bisa robot, bisa mesin, artinya semua yang telah dikomputerisasi. Beda dengan penjelasan yang diberikan guru saya tentang alat musik. Akhirnya saya menetapkan pilihan dan belajar di Instrumentasi dan Elektronika yang kemudian diganti namanya menjadi "Elektronika dan Teknologi Komputer". Karena saya yakin banyak yang berfikiran sama seperti guru saya bahwa instument itu hanya berlaku untuk alat musik.

Saya kadang tersenyum memikirkan hal ini, alangkah sederhana dan simplenya cara berfikir guru saya kala itu, meskipun dia sudah seorang guru yang notabene lebih luas pengetahuannya dibanding anak didiknya. Saya tidak menyalahkan beliau, karena itulah yang terjadi saat itu, komputer dan informasi berjalan sangat lambat mencapai kabupaten kami yang baru berkembang. Jadi apa yang didengar itulah yang di informasikan. Saya hanya kadang berfikir "Gimana kalau misalnya jurusan yang saya tanyakan benar-benar ngawur, dan saya terjebak didalam lingkaran itu? Siapa yang bertanggung jawab dengan masa depan saya?" Saya kadang cuma tersenyum mengingat masalah itu. Saya bersyukur akibat kejadian itu, karena saya suka jurusan saya, dan mendapatkan banyak ilmu yang sangat berarti untuk masa depan saya.

Oleh:
Ondo Alfry Simanjuntak

Minggu, 25 Agustus 2013

Apa pekerjaanku sebenarnya?


80% teman dan anggota keluargaku tak tahu apa yang aku kerjakan dan apa pekerjaanku,
dan aku kadang bermain dengan imaginasiku sendiri terhadap pandangan mereka kepadaku.
Ini daftar-daftar bayanganku terhadap padangan mereka mengenai 'apa yang aku kerjakan dan apa pekerjaanku'


  1.  Hampir 25% yang berfikir aku itu bekerja di bagian 'teknisi' komputer,  sebagian berfikir pekerjaanku memperbaiki komputer, membongkar jika rusak, menginstall komputer baru,  menghapus virus, dan yang bahkan ada yang berfikir se-extrim menyolder dan menge-las komponen-komponen PCB komputer dan aku sering tersenyum membayangkan tukang solder payung di tobasa (anak-anak 90-an pasti ingat satu-satunya tukang solder the legend tanah Batak).
  2. 15% berfikir aku seorang pakar sipil bangunan, karena biasanya aku membuat embel-embel developer di title pekerjaanku, dan yang mereka bayangkan aku salah satu dari pekerja sipil dengan topi proyek kebanggaannya.
  3. 15% Berfikir aku ini seorang ahli 'mengetik' komputer, mereka membayangkan dosen-dosen komputer atau instruktur-instruktur komputer di perguruan tinggi atau kurus-kursus komputer. Hampir benar, sayangnya aku bahkan tidak tahu secara mendalam pengunaan microsoft word apalagi power point, atau spread sheet.
  4. 10% berfikir aku ini sales, marketing atau pemilik salah satu situs jual beli terbesar di Indonesia. Mungkin karena mereka sering melihat aku memakai baju berlogo salah satu website yang cukup popular tersebut.
  5. 10% Berfikir aku itu TKW mencari kerja di luar negeri, bayanganku mereka berfikir aku pekerja yang berkerja sebagai buruh di perkebunan atau ladang minyak di Malaysia, dan ada kemungkinan, dicambuk, digosok ala TKW Indonesia. Mungkin karena muka cukup mendukung dan juga warna kulit yang cukup gersang.
  6. 10% Ada beberapa orang yang kasihan dengan keadaanku dan tetap menyarankanku berdoa dan sabar agar kelak masuk CPNS tahun depan, untuk yang satu ini aku benar benar terhina-sehinanya hahaha. Mungkin mereka berfikir aku Office Boy yang tetap berusaha dan berusaha mencapai cita-citaku masuk CPNS dan mengenakan seragam PNS itu.
  7. 4% Ada yang berfikir aku itu bos perusahaan besar, untuk yang satu ini aku tidak mengiyakan tapi tidak menolak, kapan lagi ada orang yang bilang aku bos perusahaan besar
  8. 1% Tapi ada juga yang berfikir aku ini hacker, membobol sistem keamanan bank, mencuri uang, membuat virus-virus perusak, dan membuat program-program canggih yang bisa melakukan apapun yang ku-mau. Bahkan mereka ada yang berfikir jika perlu data-data pemerintah bisa aku bobol kayak tragedi wikileaks. Menurutku teman seperti ini terlalu serius dalam memandang pekerjaanku. Yah tapi itulah pandangan orang terhadap programmer atau software developer.
  9. 20% Dari mereka tahu pekerjaanku sebenarnya sebagian dari teman-teman satu jurusan saat kuliah, termasuk beberapa keluargaku itu juga karena mereka dekat dan familiar dengan bagian di jurusanku yang pasti sebagian dari mereka adalah team kerjaku ataupun teman-teman satu kantorku.


Termasuk istri aku tanyakan apa sebenarnya pekerjaanku? Dan istri tercinta mejawab dengan indah 'Jual-jual barang'. Katanya aku pergi-pergi keluar negeri untuk jual-jual barang, dan meeting dengan team marketing disana. Hwa3x,,,

Jumat, 28 Oktober 2011

kenapa objek wisata di parapat sepi

Dulu sewaktu kecil parapat merupakan objek wisata yang ramai. Tepi pantai danau toba yang di kelilingi pegunungan membuat paronama yang indah dan sejuk. Kenapa sepi? Di bawah ini ada beberapa alasan kuat menurut versi dan pengalaman pribadi saya.

1. Harga yang kelewat mahal
ramainya pengunjung memberi berkah buat para warga sendiri. Maka berduyun2 orang membuka usaha sendiri. Celakanya membanting harga untuk mendapatkn untung banyak. Akhirnya pengunjung kapok dan membeli sesuatu dari luar sebelum berkunjung.

2. Sifat warga sekitar yang kurang bersahabat.
wisata merupakan acara santai untuk refreshing. Sungguh menyebalkn jika berkunjung, orang sekitar suka memanfaatkn dan menipu. Bukan berusaha membeli yang terbaik.

3. Kreatifitas dan pengembangan yang kurang.
pemerintah dan pengusaha yang kurang kreatif menarik minat wisatawan. Membuka wahana baru atau merawat dan mengembangkan yang lama.

4. Transportasi yang semakin berkembang.
dahulu orang yg brangkt kemedan harus singgah diparapat sekedar untuk makan dan minum. Skrg dengan teknologi yang semakin cepat membuat keadaan orang lebih memilih singgah di siantar atau tebing tinggi, selain harganya yang lebih murah tentunya.

Sumber www.tobatabo.com
Published with Blogger-droid v1.6.9

Kamis, 14 Juli 2011

Korupsi memberengus Balige

Jakarta - Ck,ck,ck bibirku hanya berdecak saat mendengar besarnya uang sogokan hanya untuk mendapatkan 1 kursi dikantor pemerintahan saat ini. Mengapa tidak, hanya untuk masuk sebagai Bintara Polisi saja harus membayar 120jt dari lulusan SMA atau sederajatnya. Dang hinata, sulitnya mencari pekerjaan yang menjamin kehidupan kita dimasa depan menjadi faktor pendorong orang rela merogoh kocek bahkan membongkar brangkas untuk mampu masuk menjadi Pegawai Negeri.

Sudah menjadi rahasia publik, masa penerimaan CPNS menjadi masa panen bagi pejabat-pejabat korup diberbagai instansi pemerintah. Dari setingkat kades/lurah sampai pejabat Eselon. Bahkan saat aku pulang kampung sang orang tua sudah blak-blakan mengatakan bahwa harta benda terkuras hanya untuk memasukkan anak-anak beliau menjadi korps berserangam coklat. Paling aneh, ini sudah semacam gaya........

Laguboti Sang Kota Wild West Town

Senang rasanya klo pulang ke laguboti, kampung halamanku. Sebenarnya mulai aku lahir hingga dewasa tidak sepenuhnya tinggal di kota ini. Aku lahir di Medan, somewhere near polonia airport. Kemudian setelah orangtuaku bekerja sebagai guru SMA, kemudian kami pindah ke Balige, klo ga salah di Onan Raja, kompleks SD HKBP1 di jalan somba debata. Tak lama disana, seperti manusia nomaden kami pindah lagi ke Siahaan Balige. tidak jauh dari pom bensin pertamina siahaan balige. Maklumlah saat itu orangtuaku masih muda dan baru bekerja. Akhirnya kami jadi kontraktor atau tukang ngontrak rumah, disiahaan balige kami juga masih sempat pindah beberapa kali.

Sampai saat aku kelas 2 SD, akhirnya kami menetap dan punya rumah sendiri di daerah lumban bagasan simaremarejae hutajulu laguboti. Hingga saat ini kami masih tinggal disini. Laguboti sebuah kota kecil dengan "Onan" (Pasar tradisional) sebagai pusat kotanya. Sebuah Kecamatan yang disimple, umumnya seperti kota lain di daerah toba penghasilan utama para warga disini adalah bertani, nelayan, pedagang, dan karyawan......

Pangarit Arsam sian Bakkara (Bag I Bakkara Sibolga - 1)


"Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, tokoh atapun jalan cerita hanya karena kebetulan belaka"

"Oiii...Arsam, lama sekali kau! Ayo cepat,  kita harus tiba di Sipoholon sebelum matahari terbenam, dan jangan lupa bawa bambu tempat tuak itu" teriak seorang laki-laki separuh baya  bertelanjang dada dari atas seekor kuda. "Togar, coba temui Arsam, jangan sampai tuak itu tertinggal olehnya. Itu hadiah terbaikku buat Tuan Raso Padan" pinta laki-laki itu kembali kepada Patogar. Dengan cekatan remaja tanggung itu melompat dari kuda dan berlari menaiki tangga rumah Sopo itu. Sambil berlari dia berteriak "Arsam jangan sampai lupa engkau membawa bumbung tuak itu". Samar-samar terdengar balasan dari dalam rumah "Abang togar, tolong bantu aku, terlalu banyak bawaan ini, tidak cukup badanku yang kecil ini membawa semuanya" ujar seorang anak kecil berumur 10 tahun, kepada Patogar. Tubuh anak itu terlalu kecil dibandingkan bawaannya. Seolah-olah badannya hanyut akibat buntelan dan bumbung bambu yang di bopongnya. Penampilannya yang lucu dengan rambut coklat kusam , mata hitam dan jernih serta badannya yang tirus membuat pemandangan saat itu ibarat seekor anjing kampung yang mengendong anak-anaknya dipunggungnya. Tapi hal yang paling mencolok dari anak itu adalah warna kulitnya yang merah terbakar matahari, menunjukkan dia anak cekatan dan lincah serta cerdik dan periang.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA CERITA SELENGKAPNYA

Selasa, 12 Juli 2011

Ihan, ikan batak yang semakin punah? belum tentu


Waw, aku cukup terkejut mendengar ucapan temanku, saat kami ngobrol mengenai budidaya ikan Ihan. Saat itu aq memberi saran buat dia untuk meneliti pembudidayaan ikan ihan sebagai tugas akhirnya. Kebetulan temanku ini mahasiswa tingkat akhir politeknik IPB jurusan perikanan. Dan kebetulan aq bertemu dia saat main futsal bareng alumni SMU BTB di bogor. Hal yang membuat aku terperangah adalah statementnya yang mengatakan bahwa ihan sudah berhasil di budidayakan di laboratorium perikanan IPB. Wahh..pikirku, berarti statement dan bayangan saya bahwa ihan akan punah terbukti NOL BESAR. Dan moga-moga apa yang dikatakannya adalah benar dan berhasil.

Saya jadi flashback kembali masa-masa SMA. Seingatku kelas tiga semester akhir ada perlombaan karya tulis pelajar SMA, dan pemenangnya salah anak SMUN 2 Balige, if i not wrong! Dan title karya tulis yang dibawakan adalah Membudidayakan Ikan Ihan. Kala itu saya sangat salut dengan dia, anak seumuran saya sudah punya ide, gagasan dan bayangan untuk membudidayakan ikan ihan. Kenapa Ihan begitu menjadi trending topic bagi warga batak? ya tentu saya tidak lepas dari adat istiadat batak. Kelangkaan ihan berdampak besar terhadap pergeseran tatalaksana adat istiadat dan ritual di kalangan masyarakat batak pada umumnya.

BACA ARTIKEL SELENGKAPNYA DISINI!!