Salah satu pengalaman yang sangat lucu mengenai kurangnya informasi dikalangan dunia pendidikan, yang mungkin merubah jalan hidup saya dan masa depan saya adalah kosultasi dan bimbingan pemilihan jurusan dan minat saat akan melanjut ke perguruan tinggi dengan guru saat SMA. Dulu saya tipe murid yang tertarik dengan Fisika, tapi bukan matematika dan kimia. Gelombang suara, resonansi, frekwensi gelombang, kecepatan rambat suara merupakan topik yang sangat menarik minat saya sepenuhnya.
Alkisah saya dapat tawaran dari beberapa PTN ternama untuk jalur PMDK. Kalau tidak salah, saya mengambil tawaran dari PTN Brawijaya Malang, PTN IPB bogor. Dan dari politeknik swasta lokal DEL. Saat itu saya masih anak bawang yang hanya tahu jurusan-jurusan dalam universitas hanya dari cerita saja. Misalnya Tek. Elektro akan berkecimpung dalam elektronika yang bayangan saya itu sekelas radio, televisi, atau komponen komputer. Terbayang aroma solder, PCB, resistor, transistor dan komponen elektronika lainnya. Dan bayangan masa depan, bekerja disebuah perusahaan manufaktur besar dengan mesin robotik dan automation. Untuk jurusan Tek. Mesin saya membayangkan gear-gear supergede dengan mesin-mesin besar, dan bayangan saya saat kuliah akan membongkar mesin mobil atau motor. Tapi untuk jurusan Pertanian saya membayangkan lebih keren, saat kuliah dan kerja mereka akan selalu turun kelapangan seperti desa persawahan dan perkebunan, memberi penyuluhan dengan metode canggih dan mutakhir membuat para petani melihat anda sebagi dewa penelitian. Kenyataan saat saya kuliah, anak-anak pertanian kadang mencangkol di kebun, berkutat dengan jagung dan ubi jalarnya yang semakin kerdil yang akhirnya dipanen sebagai bahan pangan dikala bokek bersama di kostan.
Saya coba konsultasi mengenai nama-nama jurusan tersebut dengan guru pembimbing di SMU, saya bertanya kepada guru fisika mengenai jurusan Istrumentasi dan Elektronika karena saya tertarik dengan embel-embel elektronika di dalamnya, tapi saya bingung Istrumentasi tu apa? maka saya bertanya dengan guru Fisika saya. "Pak, Jurusan Instrumentasi dan Elektronika itu apa sih?" tanya saya dengan polos. Dan secara cepat dan logika guru saya menjawab "Disana kamu akan belajar mengenai alat-alat musik digital, misalnya keyboard, gitar listrik, seperti apa frekwensi gelombang, dll" jawaban yang mengecewakan, saya membayangkan akan bermain musik dan memperbaiki keyboard saya sendiri nantinya saat kuliah. Tapi karena ini satu-satunya jurusan yang punya kata 'elektronika' di IPB akhirnya saya ambil sebagai pilihan ke-2 sebab pilihan pertama saya adalah "penyuluhan pertanian". Akhirnya komplet sudah karena untuk Brawijaya saya pilih "Tek. Pertanian". Berapa bulan kemudian datang pengumuman saya di terima jalur PMDK di IPB jurusan "Instrumentasi dan Elektronika" dengan bersamaan saya juga diterima di "Tehnik Pertanian" Brawijaya.
Sebenarnya saya lebih suka di IPB, tapi akibat penjelasan yang diberikan guru tentang "alat musik elektronika", saya berfikir ulang dan lebih memilih di Brawijaya. Beruntung keluarga saya ada bekerja di bagian "Instrumentasi dan Elektronika". Ternyata disini "Instrument" bukan berarti alat musik, tetapi semua device atau alat yang digunakan secara digital, bisa alat musik, bisa robot, bisa mesin, artinya semua yang telah dikomputerisasi. Beda dengan penjelasan yang diberikan guru saya tentang alat musik. Akhirnya saya menetapkan pilihan dan belajar di Instrumentasi dan Elektronika yang kemudian diganti namanya menjadi "Elektronika dan Teknologi Komputer". Karena saya yakin banyak yang berfikiran sama seperti guru saya bahwa instument itu hanya berlaku untuk alat musik.
Saya kadang tersenyum memikirkan hal ini, alangkah sederhana dan simplenya cara berfikir guru saya kala itu, meskipun dia sudah seorang guru yang notabene lebih luas pengetahuannya dibanding anak didiknya. Saya tidak menyalahkan beliau, karena itulah yang terjadi saat itu, komputer dan informasi berjalan sangat lambat mencapai kabupaten kami yang baru berkembang. Jadi apa yang didengar itulah yang di informasikan. Saya hanya kadang berfikir "Gimana kalau misalnya jurusan yang saya tanyakan benar-benar ngawur, dan saya terjebak didalam lingkaran itu? Siapa yang bertanggung jawab dengan masa depan saya?" Saya kadang cuma tersenyum mengingat masalah itu. Saya bersyukur akibat kejadian itu, karena saya suka jurusan saya, dan mendapatkan banyak ilmu yang sangat berarti untuk masa depan saya.
Oleh:
Ondo Alfry Simanjuntak